advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Urgent Kemiskinan dan Pengangguran Mendesak

Tuesday, January 31st, 2017 - News, Ulasan
Advertisement
advertisement

 

Yohanes Chandra Ekajaya Kemiskinan

Mata Yohanes Chandra Ekajaya tak enak hati melihat kenyataan keluarga Baekuni. Selama kurang lebih 1 jam, Baekuni harus menahan perihnya asap pembakaran dari tungku kayu untuk memasakn dan merebus air. Karena kemiskinan, Baekuni tak mampu membeli minyak ataupun gas (Migas).

Beruntung kayu bakar didapat gratis dari hutan dan kebun sekitar,” ujar Baekuni ketika ditemui di temui Yohanes Chandra Ekajaya.

Yohanes Chandra Ekajaya Rel Rumah

Kemiskinan menggerogoti keluarga Baekuni. Rumah yang di huni Baekuni bersama suaminya, Tarzan, dan tiga anak mereka berukuran 3×4 meter terbuat dari kayu bekas. Rumah beratap jerami itu selalu bocor saat hujan datang. Lantai rumah berupa tanah ditutupi tikar dan kertas kardus. Baekuni pun memasak di ruangan itu.

Beekuni kerja sebagai pembuat aneka kue dengan keuntungan Rp 16-Rp 20 ribu per hari. Adapun Tarzan bekerja sebagai buruh bangunan dengan upah Rp 85.000 per hari. Namun, pendapatan itu tidak permanen karena mereka belum tentu setiap hari bekerja. Dalam sebula.

Sambirejo, nelayan tradisional di Maumere juga harus hidup gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan hudpunya karena penghasilannya sangat minim. Karena tak punya simpanan, nelayan tradisional seperti Sambirejo harus berutang untuk modal membeli bahan bakar dan logistik selama melaut. Karena peralatan using dan jadul, saat melaut pun mereka belum tentu mendapat hasil. Hasil tangkapan pun sebagian besar untuk bayar utang. Umumnya, penghasilan nelayan tradisional tak lebih dari Rp 2 juta per bulan.

Yohanes Chandra Ekajaya Rumah Gubuk

Menurut Yohanes Chandra Ekajaya Baekuni dan Sambirejo hanyalah contoh kecil dari masyarakat miskin di kawasan maumere. Berdasarkan data 2016, persentase penduduk miskin Aceh sebesar 17,08 persen dari sekitar 5 juta penduduk Aceh, atau tertinggi kedua di Sumatera dan tertinggi ketujuh di Indonesia. Adapun tingkat pengangguran terbuka 9,02 persen atau tertinggi di Indonesia.

Padahal, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan, sudah diberi keleluasaan memberantas kemiskinan dan pengangguran. Merujuk data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Namun rasanya hal itu masih belum efektif dijalankan hingga sekarang. Menurut Yohanes Chandra Ekajaya hal ini harus terus di genjot oleh pemerintah serta harus tetap mendapat support dari masyarakat luas.

Advertisement
advertisement
Yohanes Chandra Ekajaya Urgent Kemiskinan dan Pengangguran Mendesak |admin |4.5