advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Rokok Sama Saja Berkawan Dengan Maut

Monday, January 30th, 2017 - Ulasan
Advertisement
advertisement

Yohanes Chandra Ekajaya Merokok

Yohanes Chandra Ekajaya menyebutkan Pada 2015, prevalensi perokok remaja sebanyak 7,2 persen dari 255 juta penduduk Indonesia. Jokowi ingin dalam empat tahun jumlahnya tinggal 4,5 persen. Tanpa RUU Pertembakauan pun, prevalensi perokok usia 10-14 tahun telah naik dari 0,7 persen pada 2001 ke 4,8 persen menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2013.

RUU Pertembakauan mengatur sangat luas soal tembakau, terutama tata niaga dan pengendaliannya. Pasal-pasal dalam rancangan ini bertabrakan dengan aturan dan undang-undang lain yang telah berlaku. Iklan dan distribusi, misalnya, tumpang-tindih dengan regulasi dalam Undang-Undang Kesehatan dan sejumlah aturan turunannya.

Banyak alasan bagi pemerintah mempertimbangkan rancangan ini. Selain soal kesehatan yang membuat Indonesia lamban mencapai tujuan Pembangunan, RUU ini dinilai akan merugikan industri rokok. Dengan dalih melindungi petani tembakau, pasal 33 membatasi impor hanya 20 persen. Jika ini diberlakukan, industri rokok dipastikan megap-megap dan gulung tikar. Selama ini, 70 persen tembakau rokok dalam negeri dipasok melalui impor karena tembakau lokal dianggap kurang berkualitas untuk rokok mild. “Jika impor dibatasi sementara petani lokal tak bisa menyediakannya, industri akan kelimpungan mendapatkan bahan baku” ujar Yohanes Chandra Ekajaya.

Yohanes Chandra Ekajaya Bahaya Merokok

Yohanes Chandra Ekajaya berpendapat dengan industri yang turun, tujuan pemerintah menjaga penerimaan negara lewat cukai, yang menjadi dasar setiap rezim menolak ratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau (FCTC), akan terganggu. Pemerintah selalu berdalih FCTC tak perlu diratifikasi karena akan menurunkan penerimaan negara, mematikan industri kecil, dan menggerus nafkah petani. Alasan ini tak tepat karena industri rokok kecil lumpuh akibat ol^opoli industri rokok besar. Tanpa FCTC, menurut penelitian Lembaga Demografi Universitas Indonesia, 65 persen petani ingin beralih ke bidang lain karena bu di dayatembakau tak menguntungkan.

Setiap tahun, dengan sekitar 300 miliar batang, industri rokok menyetor cukai Rp 100 triliun. Tidak sebading dengan kerugian kesehatan dan 400 ribu ke matian per tahun akibat penyakit yang ditimbulkan asap rokok. Kementerian Kesehatan menghitung kerugian ekonomi akibat rokok Rp 378,7 triliun karena pemerintah kini menanggung asuransi kesehatan.

Yohanes Chandra Ekajaya Naisb Perokok

“Data ini harus dijadikan sebagai rujukan utama” ujar Yohanes Chandra Ekajaya.

Cara terbaik mengendalikan rokok tanpa membunuh industrinya adalah menaikkan cukai, seperti Thailand, yang menerapkan tarif85 persen-5,6 kali cukai Indonesia. Seperti juga India, Amerika Serikat, dan Australia, perdagangan rokok tetap anteng setelah pemerintahnya meratifikasi FCTC.

Advertisement
advertisement
Yohanes Chandra Ekajaya Rokok Sama Saja Berkawan Dengan Maut |admin |4.5