advertisement

Antara Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer

Monday, February 6th, 2017 - Ulasan
Advertisement
advertisement

Perseteruan seru di dunia sastra pernah terjadi di Indonesia ini. Sering terjadi bahwa  keyakinan yang sama bisa kembali menyatukannya. Seperti konflik yang terjadi di antara Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer. Dua tokoh besar sastra Indonesia itu berseberangan paham. Tapi perseteruan itu akhirnya padam melalui sebuah agama. Dalam sebuah artikel sejarah yang dibuat oleh Yohanes Chandra Ekajaya menyebutkan bahwa perseteruan antara dua tokoh ini menimbulkan efek yang besar terhadap Republik Indonesia ini.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Yohanes Chandra Ekajaya ini,

 

perseteruan di antara Hamka dan Pram bermula pada awal tahun 1963. Jagad sastra Indonesia digemparkan oleh dua surat kabar di Jakarta, yakni Harian Rakyat dan Harian Bintang Timur. Kedua koran tersebut berafiliasi pada Partai Komunias Indonesia (PKI) di masa itu. Keduanya memberitakan karya Hamka yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck merupakan hasil jiplakan.

Rubrik Lentera dalam koran Harian Bintang Timur yang diasuh Pram, secara detil mengulas cara Hamka mencuri karangan itu. Karya tersebut diduga milik sastrawan asing, Alvonso Care. Berbulan-bulan lamanya kedua koran tersebut terus menerus memojokan Hamka. Bahkan, kedua koran itu tak hanya mengkritik karya Hamka. Mereka juga menyerang Hamka secara pribadi.

Yohanes Chandra Ekajaya mengatakan bahwa seiring berjalannya waktu, para pegiat Lekra pun harus menghadapi kenyataan pahit. Peristiwa G 30 S PKI, mengharuskan mereka masuk ke dalam daftar pencarian orang untuk ditangkap. Kedekatan mereka dengan tokoh-tokoh PKI dianggap sebagai bentuk kegiatan subversif terhadap negara. Pram termasuk pihak yang ditangkap dan dipenjara di Pulau Buru. Beberapa tahun kemudian, Pram pun bebas. Namun, Hamka tak pernah mengusik perosalan masa lalunya dengan Pram.

Dok.Yohanes Chandra Ekajaya

Pada suatu kesempatan, Hamka kedatangan sepasang tamu. Seorang perempuan Jawa dengan nama Astuti dan seorang lelaki keturunan Tionghoa bernama Daniel Setiawan. Astuti pun mengutarakan maksud kedatangannya kepada Hamka. Dia memohon kepada Hamka agar membimbing calon suami yang dibawanya serta untuk masuk Islam. Astuti mengatakan, sang ayah tak setuju jika memiliki menantu yang berbeda iman.

Setelah mengetahui maksud kedatangan Astuti, tanpa sedikit keraguan, Hamka langsung meluluskan permohonan sang tamu. Ia membimbing Daniel Setiawan, calon menantu Pram membaca dua kalimat syahadat. Hamka lantas menganjurkan Daniel untuk segera berkhitan dan menjadwalkan untuk mempelajari Islam dengannya. Sepanjang pertemuannya dengan putri sulung Pram itu, Hamka tak sekalipun menyinggung persoalannya dengan Pram beberapa tahun silam.

Salah seorang teman Pram, Hoedaifah Koeddah, sempat menanyakan alasannya mengirim calon menantunya kepada Hamka untuk mempelajari Islam. Pram pun menjawab dengan penuh ketegasan. Dia melihat tampaknya kisah Pram yang mengirim calon menantunya kepada Hamka, sekaligus menunjukan permintaan maafnya. Hamka yang langsung menerima maksud kedatangan Astuti pun secara tak langsung menunjukan sikap memaafkan. Dia bahkan bersedia membimbing calon menantu Pram itu untuk mendalami agama Islam. Ya, pada akhirnya Islam jualah yang mendamaikan keduanya.

Memang kadang sebuah perseteruan yang terjadi di dunia ini biasanya akan dapat didamaikan dengan suatu keyakinan yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Yohanes Chandra Ekajaya. Akan tetapi apakah konflik yang sedang terjadi saat ini bisa melihat kembali kebelakang bahwa hal yang disebut agama itu pasti akan mendamaikan bukanlah menceraikan. Semoga saja ulasan tentang Pram dan Buya Hamka oleh Yohanes Chandra Ekajaya ini dapat menjadi sebuah renungan bagi para pejabat negara ini.

Advertisement
advertisement
Antara Buya Hamka dan Pramoedya Ananta Toer |admin |4.5